| Mendesain Sampang Bersatu dan Sejahtera |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Tuesday, 09 March 2010 03:07 |
DARI ribuan alumni Universitas Airlangga, hanya hitungan jari yang menyandang amanah sebagai ”pejabat publik” bernama Bupati/walikota. Diantara sedikit alumni Unair itu adalah Drs. Ec. H. Noer Tjahja. Alumni Fakultas Ekonomi angkatan tahun 1976 ini, meraih kepercayaan rakyat untuk menjadi Bupati di tanah kelahirannya, yaitu Kab. Sampang, sejak 27 Desember 2007 untuk masa jabatan lima tahun.Kecerdasannya sudah menonjol sejak mahasiswa tingkat II ketika berhasil merebut beasiswa Ikatan Dinas (ID) dari Bank Indonesia (BI), sebuah institusi bergengsi di negeri ini. Ketika lulus dari FE Unair otomatis wajib mengabdikan tenaganya di BI, lalu ditugaskan di BI Surabaya yang punya wilayah operasional sampai ke Indonesia Timur. Setelah berganti-ganti tugas dan beragam jabatan, yang terakhir kali sebelum purna tugas tahun 2003 ia menjabat Pengawas Bank Indonesia Bagian Timur. ”Sedikitpun saya tidak punya bayangan dan cita-cita bahwa suatu saat menjadi bupati. Ya mungkin ini amanah dari nasyah ya,” katanya ketika ditemui di kantornya, di Pendapa Kab. Sampang. Noer Tjahja tampaknya terlahir sebagai ”trah” bupati. Dua saudaranya bahkan sudah lebih dulu menjadi kepala daerah. Abangnya yang nomor satu, H. Mohammad Noor, pernah menjadi Bupati Bangkalan sebelum kemudian menjadi Gubernur Jawa Timur dengan tingkat kharismatika yang sangat dekat dihati masyarakat. Kemudian kakaknya yang lain, Achmad Dawaki, pernah menjadi Walikota Madiun. Darah Bupati tersebut tampaknya diwariskan dari sang kakek, yaitu R. Tumenggung Ario Muhammad Ishaq Tjondronegoro, yang menjabat Bupati Sampang II (1885-1913). Catatan lain untuknya, pertama, dia merupakan Bupati Sampang pertama yang dihasilkan dari proses demokrasi bertajuk Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah), dimana langsung dipilih oleh rakyat dan bukan lagi dipilih oleh anggota DPRD. Dalam Pilkada itu Noer dan Wakil Bupati pasangannya meraih kemenangan 45% suara, sedang dua rivalnya meraih 35% suara dan 20% suara. Yang kedua, ia berhasil menghentikan ”tradisi buruk” bahwa setiap Pemilu di Sampang terjadi pertumpahan darah. Misalnya Pemilu yang harus diulang pada tahun 1997. Alhamdulillah sejak Pilkada Sampang 27 Desember 2007 itu hingga sekarang (Pilgub Jatim, Pileg, dan Pilpres) bersih dari bau amis darah. Noer Tjahja ’76 akhirnya meraih penghargaan, yang diantaranya karena mampu mengondusifkan Pilgub di Sampang (sampai putaran ketiga, dimana para elit politik nasional menghendaki kembali terjadinya pertumpahan darah. ”Alhamdulillah hal itu tidak terjadi, dan akhirnya saya dapat penghargaan dari Gubernur,” katanya. Sampang Bersatu Di tanah kelahirannya itulah Noer Tjahja menawarkan visi-misi membangun daerahnya, yaitu ”Sampang Bersatu untuk Kesejahteraan Umat”. Untuk mewujudkan visinya itu, dirangkulnya semua elemen. Masyarakat yang tadinya terkotak-kotak atau blok-blokan, sekarang nihil. Stakeholders utama di Sampang, yaitu ulama, berhasil didekati dan diyakinkan bahwa sudah bosan terjadi gontok-gontokan dan sekaranglah saatnya membangun Sampang menjadi daerah lebih maju. ”Bismillah, ayo kita berubah dengan membangun Sampang,” tekad Noer menebar semangat kepada para stakeholders. Saat itu ia membayangkan bahwa pasca jembatan Suramadu maka perekonomian Madura akan menggeliat. Prediksinya tepat. Dalam dua tahun sudah tampak hasilnya. Sampang yang dulu pernah menyandang predikat daerah termiskin di Indonesia, sekarang sudah jauh lebih baik. Tingkat kesejahteraan masyarakat yang dulu pernah berada di nomor lima terbawah dari 480 daerah dan IPM-nya hanya 55 sekian, sekarang sudah menjadi 60 sekian. Kuncinya adalah kerja keras menggenjot PAD. Berbagai sumber PAD dinormalisasikan. Hasilnya, di dalam Peta PAD di Jatim Sampang masih di tingkat bawah tetapi sudah di bagian atas. PAD itu tahun 2009 meroket dari sebelumnya Rp 10 Miliar/tahun menjadi Rp 20 Miliar. Kedepan, alumni Unair itu ingin Sampang menjadi pusat perkembangan Madura. Modalnya dari mana? Sampang punya beberapa ladang migas, yaitu tiga titik eksplor di laut dan lima titik di daratan. Tahun 2010 ini sudah ada persetujuan dengan BP Migas untuk mengeksplor 40 juta matrik/hari. Dari hasil migas itulah dibuat power plant untuk membangun pembangkit listrik yang kapasitasnya mampu mensuplai se-Madura, sekaligus untuk mengantisipasi industrialisasi Madura pasca-jembatan Suramadu. Nah, adakah input untuk almamater? Noer Tjahja berpendapat, sekarang ini saatnya Unair untuk bangkit! Karena beberapa elemen kepemimpinan di Jawa Timur sangat memungkinkan untuk itu, untuk meningkatkan partisipasi dalam pengabdian di masyarakat, maupun bergaining lain dalam pengembangan universitas. Termasuk untuk meningkatkan goodwill dan ”nilai jual” pada berbagai kompetensi yang memang dikuasai oleh Unair. Begitulah Noer Tjahja ’76. Vivat almamater!! (b) |
| Last Updated on Thursday, 27 January 2011 14:51 |




DARI ribuan alumni Universitas Airlangga, hanya hitungan jari yang menyandang amanah sebagai ”pejabat publik” bernama Bupati/walikota. Diantara sedikit alumni Unair itu adalah Drs. Ec. H. Noer Tjahja. Alumni Fakultas Ekonomi angkatan tahun 1976 ini, meraih kepercayaan rakyat untuk menjadi Bupati di tanah kelahirannya, yaitu Kab. Sampang, sejak 27 Desember 2007 untuk masa jabatan lima tahun.












