| MAKNA RAMADHAN |
|
|
|
| Written by tubiyono |
| Sunday, 28 August 2011 14:33 |
|
Sebentar lagi bulan yang penuh rahmat, bulan yang penuh ampunan, bulan yang penuh berkah tahun 1432 H atau 2011 segera meninggalkan bagi umat muslim. Ditinggalkan bulan Ramadhan, umat muslim merasa gembira sekaligus merasa sedih. Perasaan gembira karena dalam dirinya kembali suci seperti bayi yang sedang dilahirkan tanpa dosa. Sebaliknya, perasaan sedih karena segera akan ditinggalkan masa-masa yang sangat subur untuk melakukan kebaikan. Karena satu kebaikan yang dijalankan pada bulan Ramadhan pahalanya bisa berlipat-lipat apabila dibandingkan dengan satu kebaikan yang dijalankan selain bulan Ramadhan. Dalam bulan Ramadhan pada hakikatnya adalah mendidik umat muslim agar dapat mengambil profit yang berupa peningkatan kuantitas dan kualitas keimanannya secara maksimal baik secara personal maupun secara sosial yang berimplikasi kepada kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat yang plural. Dengan demikian kehadiran seorang sosok muslim yang memanifestasikan rahmatan lil ‘alamin sangat dinanti-nantikan di negeri yang ber-Bhineka Tunggal Ika ini. Dapat diamati dan dapat dirasakan bahwa umat muslim pada bulan Ramadhan ada peningkatan amal kebaikan dalam bentuk ibadah ritual dan ibadah sosial. Dengan kata lain, insya Allah keimanan dan ketakwaannya juga meningkat. Peningkatan ibadah ritual dapat dilihat banyaknya aktivitas di masjid, surau, dan di tempat lain diselenggarakan buka bersama dilanjutkan sholat isyak dan tarawih berjamaah. Peningkatan ibadah sosial dapat dilihat adanya pemberian infak, sadaqah, dan zakat kepada kaum dhuafa atau fakir miskin dan anak yatim. Hal yang menjadi kerisauan adalah bagaimana amal-amal yang dijalankan setelah ditinggalkan bulan Ramadhan membawa dampak penurunan keimanan dan ketakwaan atau tidak. Tentu saja kualitas keimanan seorang muslim tidak ingin ada penurunan derajatnya. Oleh karena itu, dalam menjalankan ibadah puasa dan ibadah sosial Islam mengajarkan adanya kalkulasi secara cermat atau yang disebut ihtisaban yang berbentuk refleksi diri secara kritis. Makna terdalam ibadah puasa adalah adanya kesediaan secara tulus untuk membuka hati dan tidak menuruti ego pribadi yang dikendalikan nafsu amarah, nafsu serakah, nafsu angkara, dan nafsu lainnya. Apabila nilai ini yang membentuk peningkatan kualitas iman dan takwa terus dijadikan pedoman dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara insya Allah akan menjadi kenyataan suatu negeri yang baik, aman, harmoni, dan mendapatkan ampunan Allah SWT atau yang dikenal dengan baldatun thoyibatun warobbun ghofur.
|
| Last Updated on Sunday, 28 August 2011 14:47 |

















