| “Kemanjaan” sebagai Penghambat Calon Pemimpin Muda Masa Depan |
|
|
|
| Written by tubiyono |
| Thursday, 28 April 2011 03:04 |
|
Dalam kuliah tamu di Aula Fajar Notonagoro, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Calon pemimpin bangsa masa depan harus yakin atas kemampuan diri untuk dapat menyelesaikan persoalan yang membelenggunya. Berkaitan dengan hal itu, sebagai mahasiswa yang kelak akan memimpin bangsa yang besar ini perlu belajar untuk tidak “tinggal glanggang colong playu” lari dari tanggung jawab. Apa pun persoalan yang dihadapi dapat diselesaikan secara konstruktif, tidak boleh patah arang, tidak boleh takut kegagalan. Kegagalan merupakan satu langkah untuk menuju keberhasilan. “Kalau kita tidak pernah gagal, maka kita tidak akan pernah berhasil” tuturnya.
Sebagai ilustrasi, Ical, sapaan akrabnya menceritakan bahwa ketika kuliah di ITB tidak mau menggunakan fasilitas yang telah melekat pada diri orang tuanya, meskipun sangat dimungkinkan. Dia berusaha sendiri dengan membuat tas punggung, kaos yang diberi label masing-masing perguruan tingi, dijual di Pasar Tanah Abang, Pasar Cikini, dan Pasar Senin. Dalam menjalankan bisnisnya tidak dikerjakan sendirian, namun bersinergi dengan orang lain dengan sharing profit. Dari pengalaman pembelajaran kehidupan nyata itulah yang mewarnai di masa depannya. (t)
|
| Last Updated on Monday, 02 May 2011 14:51 |




Airlangga, Rabu, 27 April 2011, Aburizal Bakri, Ketua Umum Partai Golkar, memberikan pesan kepada audiens, utamanya mahasiswa sebagai calon pemimpin muda masa depan supaya tidak membiasakan diri dalam kultur “kemanjaan”. Kemanjaan merupakan manifestasi perilaku yang tidak mandiri, takut berdiri di atas kaki sendiri (berdikari), tidak berani mengambil resiko, lari dari persoalan, dan sifat negatif lainnya.











