|
Written by tubiyono
|
|
Monday, 21 February 2011 07:58 |
|
ALUMNI UNAIR JADI DIREKTUR BNI PEROLEH PENGHARGAAN ALPHA
SOUTHEAST ASIA
Sebagai warga Universitas Airlangga tentu merasa bangga jika alumni terbaiknya dapat menyumbangkan tenaga dan pemikiran untuk kemajuan negeri tercinta Indonesia. Seperti halnya yang diraih oleh Direktur BNI Adi Setianto yang merupakan lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Kompas, 16 Februari 2011).
Adi Setianto sebagai Direktur BNI dapat membawa nama harum institusi di tingkat internasional dengan ditansai perolehan penghargaan dari Alpha Southesat Asia sebagai The Best Remitance Provider of the Year in Souteast Asia dalam ajang 4 tahunan Annual Best Deal & solution Awards 2010 di Singapura pada tanggal 15 Februari 2011.
|
|
Last Updated on Monday, 21 February 2011 08:10 |
|
Read more...
|
|
Profil Wisudawan Terbaik -10 April 2010 |
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 17 May 2010 08:22 |
| NAMA |
FAKULTAS |
| DIAH AYU SATYARI UTAMI |
S1 Perikanan dan Kelautan (Fakultas Perikanan dan Kelautan) |
| |
|
|
IPK Tertinggi Program Sarjana: 3,97
Diah, sapaan mahasiswi kelahiran Surabaya, 06 Mei 1988 ini merupakan wisudawan terbaik dengan nilai IPK tertinggi yaitu 3,97. Meskipun prestasi akademiknya sangat gemilang, Diah juga tidak selalu sempurna dalam menyelesaikan tugas atau ujian. “Mendingan ngawur daripada nyontek, karena kalau nyontek seringnya ketahuan, jadi banyak takutnya”, tuturnya. Sejak menyelesaikan skripsi yang berjudul “Korelasi antara Konsentrasi Oksigen Terlarut pada Kepadatan yang Berbeda dengan Skoring Warna Daphnia”, Ia sudah memperkirakan akan terpilih menjadi wisudawan terbaik mewakili fakultasnya karena IPKnya paling tinggi diantara 10 orang wisudawan lainnya. Karena sosok ayah, M. Amin yang selalu memotivasinya untuk menjadi yang terbaik, Diah juga menorehkan prestasi sebagai Peringkat IV Mawapres FKH Unair dan Peringkat II KKTM Pekan Ilmiah Unair. Dalam lima tahun kedepan, Diah berharap akan menjadi Kepala Laboratorium Penyakit dan Kesehatan Ikan untuk membuat ibunya, Anik Sunarsih yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga sebagai guru TK dan SD menjadi bangga kepadanya.
|
| NURUL LATIFAH |
D3 Akuntansi (Fakultas Ekonomi) |
| |
|
|
Nyontekin? No, Belajar Bareng? Ayo Begitulah prinsip yang diterapkan Nurul kepada teman-temannya selama menjalani kuliah terutama waktu ujian. Ia mengatakan: “Memberikan contekan kepada teman sama saja dengan membodohi mereka, mendingan belajar bareng saat sebelum ujian”. Anak pasangan Slamet Moenadi (Pensiunan PNS) dan Siti Fadillah ini tidak pernah menyangka akan menjadi wisudawan terbaik mewakili fakultasnya dengan IPK 3,61. Namun, berbagai prestasi dalam karya tulis dan keaktivan mengikuti organisasi telah mengantarkannya menjadi yang terbaik, diantaranya: Ia pernah menjadi juara III KKTA PIMNAS XXII Tingkat Nasional 2009 dan juga pernah menjadi anggota komisi C BLM FE. Mahasiswi kelahiran Surabaya, 28 Mei 1989 yang pernah bekerja sebagai pembimbing ekstrakurikuler SMP Ta’miriyah Surabaya ini mengaku kalau tidak suka mencatat, Ia lebih suka konsentrasi mendengarkan dosen sampai Ia paham dan hanya sesekali memberikan catatan tambahan di buku diktatnya. Siapa sangka, Nurul yang pada awalnya sangat ingin menjadi dokter—bahkan ia mengaku telah lebih dari sepuluh kali mencoba ikut tes masuk kedokteran—kedepan Ia malah berharap menjadi pengajar dan pengusaha yang sukses.
|
| AYU SETIADEWI |
S1 Kesehatan Masyarakat (Fakultas Kesehatan Masyarakat) |
| |
|
|
Study Hard, but Play Harder Rajin mencatat adalah salah satu kunci sukses Ayu untuk optimal dalam menerima mata kuliah. Tidak heran jika catatannya selalu laris manis difotokopi teman-temannya saat menjelang ujian. Selain itu, tidak ada kamus SKS (Sistem Kebut Semalam) baginya jika menghadapi ujian. Anak pertama dari pasangan Sudibyo Setiyabudi (Pegawai TELKOM) dan Juniati Sudewi ini merupakan tipe mahasiswa study oriented. IPK 3,74 telah membuatnya menjadi wisudawan terbaik mewakili fakultasnya meski tanpa didukung keaktifan berorganisasi maupun prestasi karya tulis. Mahasiswi kelahiran Surabaya, 13 Februari 1987 yang mengidolakan Valentino Rossi ini menyeimbangkan kerja kerasnya dalam belajar dengan jalan-jalan bersama teman-temannya. Ia berpegang pada motto hidupnya: “Study hard, but play harder, dalam hidup harus bisa balance”. Ayu yang berhasil menyelesaikan skripsinya berjudul “Perbedan Pola Konsumsi pada Saat Menstruasi antara Remaja Putri di Kota dan Desa” berharap dalam lima tahun kedepan akan bekerja di Dinas Kesehatan Kota atau Propinsi. Jika tercapai, Ayu berkeinginan untuk membuat kebijakan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak-anak warga miskin dengan sistem diantar langsung ke sasaran.
|
| FARISKA ZATA AMANI |
S1 Pendidikan Dokter (Fakultas Kedokteran) |
| |
|
Praktek Beda dengan Teori di Kelas Mahasiswi kelahiran Surabaya, 14 Februari 1989 yang biasa dipanggil Icha ini tidak pernah menyangka akan menjadi wisudawan terbaik karena ketatnya persaingan di FK. Dokter Muda yang masuk FK Unair melalui jalur PMDK Prestasi ini juga mengaku bahwa hanya belajar secara intensif seminggu sebelum ujian. Meski demikian, putri pasangan Ir. Achmad Fauzi dan Kamsijah, mampu meraih IPK 3,64 dan masih aktif dalam berbagai organisasi serta meraih berbagai penghargaan diantaranya: Juara III LKTI tingkat nasional FE UNIBRAW, peraih penghargaan PKMGT DIKTI 2009, dan sebagai Ketua I FORISMA BEM FK 2008-2009. Icha menuturkan bahwa pengalaman yang paling mengesankan adalah pada saat pertama kali menyentuh pasien secara langsung. “Jadi Dokter Muda terus nyentuh langsung pasien adalah pengalaman unik, beda banget sama teori di kelas”, kata mahasiswi yang suka belajar dalam suasana sepi pada malam hari. Kedepan, Icha bercita-cita ingin menjadi dokter spesialis bedah dan mempunyai poliklinik sendiri yang terutama diperuntukkan untuk orang-orang tidak mampu.
|
| GANENDRA ANUGRAHA |
S1 Kedokteran Gigi (Fakultas Kedokteran Gigi) |
| |
|
Gelar “dr” ditambah “g” Gani, begitu sapaan mahasiswa kelahiran Surabaya, 10 Nopember 1985 yang juga merupakan Ketua BEM FKG 2008 ini tidak pernah menyangka akan menjadi wisudawan terbaik karena nilai IPKnya bukanlah yang tertinggi. IPK 3,55 bukanlah modal utamanya, keaktifannya dalam berorganisasi dan penghargaan dalam berbagai perlombaan karya tulis seperti Juara I LKTM FKG 2006 dan Juara I Lomba Poster Dentistry Olimpiade 2008 telah mengantarkannya menjadi wisudawan terbaik mewakili FKG. Mahasiswa yang hobi berwisata kuliner ini merasa sangat berterima kasih kepada Pakdhe dan Budhe yang telah merawatnya sejak kecil. Mawapres FKG Unair 2008 yang suka belajar sambil mendengarkan radio ini berhasil menyelesaikan skripsinya berjudul “Efek Ekstrak Etanol Bawang Putih terhadap Proliferasi Sel Fibroblas”. Gani merasa bangga dengan pencapaiannya saat ini meski awalnya sangat ingin menjadi dokter umum, bukannya dokter gigi. “Alhamdulillah tercapai, pengen jadi dokter akhirnya terkabul, tapi ditambah G hehe..”, candanya. Kedepan Ia bercita-cita menjadi dosen FKG Unair sekaligus menjadi spesialis bedah mulut.
|
| KARTIKA ISHARTADIATI |
Magister Pendidikan Dokter (Fakultas Kedokteran) |
| |
|
Belum Pernah Nyontek Sama Sekali Dosen di FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang biasa dipanggil ibu Titiek ini mampu meraih IPK 3,99. Ia mengatakan bahwa dukungan keluarga, yaitu suami dan anak-anaknya sangat berperan dalam pencapaiannya sampai saat ini. Ibu Titiek yang selalu menjadi juara kelas sejak SD sampai SMA mengaku bahwa motivasi yang ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya mengerti pentingnya ilmu pengetahuan. Ia mengisahkan bahwa selama menimba ilmu belum pernah sekalipun mencontek, “Saya belum pernah menyontek sama sekali, pernah suatu masa ketika SMP ada ulangan mendadak dan saya belum belajar. Alih-alih mencontek, saya malah meminta ijin kepada guru untuk membuka buku karena saya merasa tidak siap dan pada akhirnya guru tersebut malah membiarkan saja saya membuka buku di atas meja”, tutur dokter kelahiran Surabaya, 18 Maret 1971 ini. Hal yang paling berkesan baginya adalah ketika Ia mengadakan bakti sosial di daerah Tengger saat masih kuliah karena medan yang ditempuh begitu berat hingga untuk mencapai satu desa butuh waktu sampai delapan jam.
|
| HERMIN SUSILOWATI |
S1 Sastra Indonesia (Fakultas Ilmu Budaya) |
| |
|
Tidak Menikmati Ilmu Sendirian Begitulah filosofi yang dipetik mahasiswi kelahiran Sidoarjo, 5 Juli 1988 dari tokoh idolanya yaitu Butet Manurung. Cita-citanya untuk menjadi pendidik anak Rimba selaras dengan hobinya mendaki gunung. Selain nilai IPK 3,75 dan beberapa penghargaan yang pernah diraihnya seperti Juara III Mawapres Unair 2009 dan Juara I Debat Bahasa Inggris PIM Unair, Hermin juga aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan (BEM KM, BEM FIB, BLM FIB). Mahasiswi enerjik yang pernah bekerja di LBB Primagama dan PT. Millenium Penata Futures ini sangat ingin membuat orang tuanya bangga atas pencapaiannya. “Saat ini aku bangga menjadi wisudawan terbaik karena bisa melihat orang tuaku duduk di kursi VIP saat prosesi wisuda”, tutur Hermin. Harapan terbesarnya di masa depan adalah dapat mendirikan sekolah dan membelikan rumah bagi orang tuanya.
|
| LENA WILLEM |
Magister Kenotariatan (Fakultas Hukum) |
| |
|
Ingin Punya Usaha Game Center Mahasiswa asal Sulawesi Barat yang biasa disapa Lena ini memang berkeinginan mempunyai usaha Game Center. Maklum saja, darah berwirausaha mengalir deras dari ibunya yang juga pengusaha. Mahasiswi keturunan China kelahiran Ujung Pandang, 15 Oktober 1986 ini sangat membanggakan dan mengidolakan ibunya karena menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya meninggal waktu Lena masih SD. Sambil tersedu, Ia bertutur: “Mama membesarkan lima anak sendirian, makanya aku pengen selalu jadi yang terbaik biar kerja keras mama nggak sia-sia”. Selain itu, Lena juga selalu terngiang pesan ayahnya sebelum meninggal agar senantiasa mendapat ranking di kelas. Anak ketiga dari lima bersaudara ini mengaku paling takut untuk nyontek waktu ujian. Oleh karena itu, Lena selalu berusaha untuk mempersiapkan diri minimal dengan belajar intensif pada malam hari sebelum ujian. Salah satu buah manis dari usahanya tersebut adalah pencapaiannya menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3,96.
|
| AGUS DWI PITONO |
Magister Kesehatan Masyarakat (Fakultas Kesehatan Masyarakat) |
| |
|
Dokter e Wong Ndeso “Saya ini doktere wong ndeso”, begitulah dr. Agus menyebut dirinya. Dokter kelahiran Jember, 8 Agustus 1968 ini sekarang mengabdi di Puskesmas Kota Bima, NTB. Ia sangat antusias melanjutkan kuliah sampai S3 agar dapat memecahkan permasalahan yang terjadi di lapangan. Dokter yang mengidolakan Ir. Soekarno ini selain cemerlang secara akademik dengan meraih IPK 3,91, juga telah meraih berbagai penghargaan atas pengabdiannya yaitu terpilih menjadi Juara I Dokter Teladan mulai tingkat kota sampai tingkat nasional. Program magister yang diraihnya saat ini pun merupakan beasiswa dari World Bank. Dr. Agus mengaku bahwa orang yang paling pantas mendapatkan rasa terima kasih atas pencapaiannya saat ini adalah kedua orang tuanya. “Bapak-Ibu saya hanyalah guru, mereka sangat ingin saya menjadi seorang dokter. Jadi, saya masuk kedokteran walaupun awalnya saya sangat ingin menjadi sarjana kimia”, cerita dokter yang juga hobi membaca ini. Sampai saat inipun, ibunya selalu mendo’akan dengan berpuasa dan sholat tahajjud jika dr.Agus akan melaksanakan ujian atau momen penting lainnya.
|
|
|
Last Updated on Tuesday, 18 May 2010 02:27 |
|
|